27/11/2015
Di suatu malam saat hujan datang, aku
membawa secangkir coklat panas kesukaanku dan pergi ke kamar. Aku melihat
sebuah buku yang dihiasi dengan clip Hello kitty di sampulnya. Aku membukanya
dan mulai membacanya. “Hai, aku Alvin. Nama kamu siapa?” Tanya seseorang saat
aku memakirkan motor di pagi yang cukup terik ini. “Namaku Anisa,” jawabku
sambil menerima jabatan tangannya. “Kita satu kelas kan? Aku kelas B” lanjut
dia sambil berjalan menuju kelas untuk pertama kalinya. Sampai di kelas aku
bersama ke-2 temanku, mereka adalah Anggi dan Aliva. Aku mengenal mereka saat
OSPEK. Selain asik, mereka juga bisa mengerti artinya persahabatan mungkin itu
yang membuatku dekat dengan mereka. Kita selalu berempat saat tidak ada kuliah,
karena satu teman lagi berbeda kelasnya. Dia bernama Nia.
Aku sekarang kuliah di salah satu PTS di
daerah Bandung. Sebenarnya aku tidak ingin kesini, tapi karena aku tidak ingin menolak
perintah orang tua untuk pertama kalinya jadi aku terpaksa kuliah disini dan
memulai hidup baru disini. Aku sangat suka cuaca disini, di daerah pegunungan
yang tidak panas seperti kota asalku. Aku selalu berolahraga di pagi hari
sekalian menikmati udara tanpa polusi disini ^_^ .
Di minggu kedua, aku kuliah seperti
biasanya. Salah satu temanku ulang tahun dan dia mengadakan sebuah pesta ulang
tahun. “Cha, bareng yuk!” ajak Alvin lewat BBMnya. “Icha” itu panggilan aku
saat masih kecil tapi semua teman di kelas memanggil itu gara-gara ada yang
baca buku diaryku. “Maaf vin, aku bareng sama Aliva.” Balasku. Sampai disana
aku bareng Aliva dan Nia. “Happy Birthday Anggi J” semua teman-teman memberi ucapan dan kado untuk Anggi.
“Terimakasih buat semua teman-teman. Ini merupakan pesta terindah yang pernah
aku rasakan. Silahkan nikmati makanannya.” Kata Anggi. Saat aku sedang ngobrol
dengan teman-temanku, tiba-tiba hpku bergetar “Kamu dimana?” pesan dari Alvin.
Mataku mencarinya dan ternyata dia ada didepanku, “Di belakangmu” balasku. Dia
membuka hpnya dan pergi begitu saja. “Pulang bareng yah?” pesan dia lagi, “Aku
kayanya tidur disini vin,” balasku. Aku sedikit bingung dengan dia, dia slalu
chat aku kalo mau tidur dan setiap aku bangun tidur dia slalu mengucapkan
selamat pagi, aku tidak tahu apa dia mencintaiku atau hanya rindu kasih sayang
:D . tapi semua itu tidak aku tanggapi aku takut bermain cinta lagi. Aku takut
kjadian dulu akan terulang.
Setiap hari Alvin selalu bersikap baik
kepadaku dan dia cukup membuatku nyaman dengan perhatian dan pengertiannya. Di
suatu malam aku BBM.an dengannya, dia menceritakan masa kecilnya, walaupun
tidak bersamanya tapi aku selalu tersenyum ketika membaca pesan darinya. Aku
selalu ingin dia bersikap seperti ini saat di kampus, karena selama ini aku
tidak pernah melihat dia menyapaku setiap ketemu apalagi untuk bersama.
Hari ini aku ingin mudik ke bekasi karena
libur habis uts. Aku bangun seperti biasanya dan aku membuka hp “I LOVE YOU
Icha, Mimipi indah yah” BBM dari Alvin, hal itu membuatku yakin akan ada
perubahan dari sikapnya. Aku pergi ke kampus dengan perasaan senang, tapi
sampai disana aku ingin segera pergi. Aku dapat kabar dari Anggi kalo Alvin
lagi suka sama Anjar teman sekelasku. “Bahkan dia pernah ngajak dinner bareng
sama Anjar” Anggi bilang kepadaku. Aku sangat kecewa dengannya, “Padahal aku
udah mulai nyaman sama kamu vin!” Bentakku dalam hati. “Udah ga usah nangis,
cowok mah emang gitu cha” Kata Aliva menenangkanku. Aku mencoba tenang di dalam
kelas dan mulai untuk mengacuhkannya. “Kamu kenapa?” BBM Alvin, tapi aku tidak
membalasnya. Saat jam sudah berakhir aku bergegas untuk pulang, aku sudah
merindukan semua yang ada di rumah.
“Mau mudik yah? Hati-hati icha ;) “ Kata
Alvin lewat bbmnya. “Cha, kamu kenapa? Lagi ada masalah? Cerita napa?”
lanjutnya. “Ga papa ko” balasku singkat. Aku duduk di depan rumah sambil
memandangi bintang, aku masih kepikiran dengan apa yang sudah dikatakan oleh
sahabatku. “Lagi kenapa? Alvin?” tanya mamahku. Aku selalu terbuka dengan mamah
bahkan untuk masalah cowok. “Engga mah :) “ jawabku. “Emang mamah ga tau kalo
kmu lagi bohong?” ejek mamahku. “Udah ga usah dipikirin, kalo dia beneran
sayang sama kamu. Dia pasti ga bakal bikin kamu sedih.” Lanjut mamahku yang
berubah jadi pakar cinta :D . “Kamu berbohong aku pun percaya kamu lukai ku tak
peduli” tiba-tiba hpku berbunyi. “Udah angkat aja” kata mamahku dan langsung
meninggalkanku sendirian. “Icha?” terdengar suara Alvin. “iyah, kenapa?”
jawabku. “Kamu lagi ngapain? Aku ganggu ga?” tanya Alvin. “Maaf yah, aku lgi
disuruh mamah. BBM.an ajah” jawabku sambil menutup telvon darinya. “Salam buat
mamah” Bm dia tapi aku membiarkannya saja.
Aku duduk di ruang keluarga dengan adik dan
kakakku juga mamah dan papahku. Aku sangat senang jika bersama mereka, bahkan
sekarang aku bisa tersenyum lagi. Aku bercerita semua yang aku alami hidup
tanpa mereka disana, dan semua tertawa ketika aku bercerita tentang Alvin. “Yah,
kasihan adik aku Galau :D “ ejek Arif, kakakku. “Udah malem tuh, pada tidur.
Lampunya matiin!” Perintah papahku yang memang mantan tentara jadi kehidupan di
keluargapun disertai dengan aturan-aturan. Tapi semua sudah terbiasa dengan hal
itu, ini juga demi kebaikan kita semua.
“Bangun dong, udah pagi nih” seperti biasa
ada bbm dari Alvin setiap aku bangun. Tapi aku tidak pernah membalasnya karena
aku bingung mau dibalas apa. Hari ini aku Travelling bareng keluarga ke Taman
Safari, Bogor. Aku bertemu dengan teman
SMA disana, dia bernama Bagus. Selain teman, dia juga pernah menjadi seseorang
yang sangat spesial di hatiku. Aku melihat perbedaan saat SMA dan sekrang, dia
terlihat sudah dewasa dalam perkataannya. Aku bertukar nomor dan sms.an
sepanjang jalan pulang. Sampainya di rumah aku langsung nyiapin semua yang akan
ku bawa kembali ke Bandung karena libur sudah selesai.
Saat aku ingin tidur, aku membuka hp dan
ada beberapa BM dari Alvin dan Bagus, tapi aku tidak membalas pesan dari Alvin
karena aku merasa tidak ada yang penting dengannya. Aku BBM.an dengan Bagus
sampai tengah malam. Dan dia bilang ingin aku bersamanya lagi, tapi aku
menolaknya dengan alasan masih trauma pacaran. Tapi setelah itu dia tidak
pergi, dia semakin meyakinkanku klo dia memang benar-benar mencintaiku.
Hari-haripun berlalu dan aku semakin
terbiasa tanpa Alvin. Aku mencoba untuk melupakannya. “Cha, Aku sayang kamu.
Kamu mau ga jadi pacar aku” BBM dia saat pulang. “Buktiin kalo kamu sayang
aku,!” jawabku. “Kamu bilang itu langsung di depan teman-teman biar aku
percaya” Lanjutku dengan ragu.
Seminggu berlalu dan dia masih tetap cuek
seperti biasanya. Aku mencoba berhenti mengharapkan apa yg akan dia lakukan. “Cha,
keluar aku di depan kosan kamu” terlihat pesan di hpku. Aku melihat dari
jendela dan ternyata memang ada motornya, tiba-tiba hujan datang dengan petir
yang sangat besar. Aku mengintip lagi apakah dia masih disana, saat aku melihat
dia sedang bersama Doni, sahabatnya. Tapi sepertinya Alvin sedang dalam kondisi
yang tidak baik. Aku langsung pergi untuk keluar dan membuka pintu, tapi mereka
sudah pergi dengan cepatnya.
Keesokan harinya mereka absen di kelas, aku
tidak tahu mengapa dia ga masuk. Aku coba buat bm dia, tapi tidak ada jawaban.
2 haripun berlalu, Doni datang dan menceritakan apa yang terjadi dengan Alvin.
“Hari ini Alvin sedang sakit, jadi kalo tidak keberatan nanti sore kita kesana.
Setuju?” . Setelah jam selesai aku mencoba menghubungi Alvin, “Kenapa?” tanya
Alvin dengan suara parau. “Kita sekelas
mau kesitu” jawabku sambil menutup telvon. Aku kecewa kenapa dia bisa
sakit seperti ini, aku juga sangat merasa bersalah. Sampai disana kami disambut
oleh keluarganya, “Eh, conge ga dengerin omongan gue luh” kata Alvin ke Doni.
“Katanya luh kangen sama temen-temen coeg” jawab Doni dengan akrabnya. “Maaf
yah temen-temen ngrepotin kalian, Aku besok berangkat ko” kata Alvin kepada
semua yang datang. Mamah Alvin tiba-tiba keluar ruangan, aku melihat sepertinya
mamah Alvin sedang menangis. “Alvin sakit apa bu?” tanyaku penasaran “Alvin
punya Kanker Otak, kamu yang namanya Icha?” kata Ibu Alvin “Ada sesuatu yang
ingin Alvin kasih buat kamu,” lanjutnya. “Bu, pamit yah. Ada mata kuliah setengah
jam lagi” kata Aris mengagetkanku. “Oh iya dek, terimakasih sudah datang” jawab
ibu Alvin. Dan semuanya pun kembali ke kampus kecuali aku sama Doni, Doni
sahabat Alvin dari kecil jadi kemanapun dia tidak mungkin berpisah. “Icha, maaf
yah” kata Alvin dengar suara serak. Aku menangis saat mengetahui penyakitnya.
Aku memegang tangannya untuk pertama kali. “Aku sayang kamu cha” Katanya sambil
menutup mata untuk selamanya. Semuanya menangis termasuk Doni dan aku.
Sebulan berlalu dan aku sudah terbiasa tanpa
kehadirannya, tapi tetap saja aku selalu menangis jika mengingatnya. “Cha,
sebelum Alvin ninggalin kita, dia nitipin ini ke aku. Tapi maaf aku baru ngasih
ke kamu. Oh iya masalah Anjar, sebenernya aku yang ngajak dia dinner soalnya
hpku lobet pas itu. Anjar juga tahu ko” kata Doni sambil memberikan sebuah buku
kecil. Sampai dirumah aku membukanya, Halaman 1 “Nama Anisa dipanggil Icha. Ga
masuk akal :D “ . Halaman 2 “Aku pikir aku menyukainya,” semua terlihat seperti
perasaannya kepadaku tapi hanya satu kalimat per halaman. Hal 15 “Kamu kenapa?
Ko cuekin aku? Apa ada yang salah?” Hal 16 “Baik-baik disana yah Cha” lalu di Hal
21 “Memang sakit mencintai orang yang tidak mencintai kita. Tapi lebih sakit
jika kita mencintai orang dan tidak mempunyai keberanian untuk
mengungkapkannya”. Hal 22 “Hari ini aku ingin membuktikannya, tapi saat aku
panggil dia tidak menghiraukan aku” lembar demi lembar aku baca. Hal 25
“Sepertinya sudah ada orang lain dihati kamu yah? Aku akan pergi” Hal 26 “Cha,
kamu lagi ngapain? Sudah makan ,...”
dihalaman 26 berisi pertanyaan dan saat aku lihat waktu penulisannya itu
saat hp aku matiin seharian. Hal 27 “Kamu berbohong akupun percaya” Hal 28
“Kamu lukai ku tak peduli, coba kau berpikir dimanakah ada cinta yang seperti
ini” Hal 29 “Cha, aku sebenernya cemburu dengan Aris, Doni atau yang lain.
Mereka bisa dekat dengan kamu dengan mudah. Dan kamu selalu terlihat seperti
menyukainya. Aku ingat saat Anggi bilang banyak yang deketin kamu dan kamu
ngrespon semua kcuali aku. Hal 30 “Malam ini aku akan membuktikannya” aku ingat
malam itu, ketika dia di depan kosan aku. Air mataku jatuh saat aku mengingat
hal itu. Hal 31 “Maaf cha, aku cinta kamu dengan cara yang salah” Hal 32
“Sebelum aku meninggalkanmu, aku ingin kamu tahu kalo aku sangat mencintaimu.”
Air mataku keluar, “Kenapa kamu ga bilang
sih vin!! Aku juga sama, aku cinta kamu. Tapi apa susahnya sih bilang seperti
itu.!!! Teriakku. “Sekarang apa? Kamu ninggalin aku sendiri dengan cinta kamu
ini?!! Kenapa kamu ga bilang kalo kamu lagi sakit malam itu! Aku ga tau kalo
kamu rela mati demi aku. Aku, Orang yang selalu bikin kecewa kamu!!” Aku
melempar bukunya dan ada foto jatuh, aku melihat aku sedang bersamanya saat aku
dan Alvin pertama bertemu di parkiran. “Semoga Bahagia Cinta Terakhirku” tulisan
di Hal 33. Aku sangat menyesal tidak bisa membahagiakannya di hari terakhirnya.
:’(
Paginya aku pergi ke kampus dengan perasaan
senang, aku bertemu Alvin walaupun di Mimpi, dia berjanji akan selalu ada di
mimpiku jika aku memikirkannya. seperti malam ini aku ingin bertemu dengannya
lagi ;)
“Teng tong” jam berbunyi menandakan waktuku
untuk tidur “hhuuuuhh ga kerasa udah jam 12 aku baca ini :) . yah Cokelat
panasnya jadi Cokelat dingin lagi. -_- “ umpatku. “sungguh masa awal yang indah
di Universitas ini walupun 3 semester yang lalu kamu ninggalin aku buat
slama-lamanya tapi aku tidak akan pernah melupakanmu.” Kataku sambil mengusap
foto yang dia kasih di bukunya 1 setengah tahun yang lalu. :)