Ok, ketemu lagi breng gue. Sebelumnya gue minta
maaf karena udah lama ga posting cerita” yg bisa menjadi teman tidur kalian .
Di cerita gue kali ini, gua mau bahas tentang
orang yg suka ngrokok dan.....
Dari pada penasaran kita lihat aja langsung ceritanya.....
Sore itu aku
sedang duduk di sebuah kursi taman yg mengelilingi sebuah kolam. Gemercik air yg
terdengar merdu ditelingaku membuatku sedikit mengantuk. “lama banget sih tuh
anak” timpalku karena mulai jenuh menunggu. Akhirnya aku coba berkeliling dan
aku melihat secarik kertas di pohon, aku coba untuk mengambilnya. “Happy
anniversary Tasya” dan tiba-tiba ada
anak kecil yg menghampiriku. “ini pesan dari kakak yg disana” dia memberikan
sepucuk surat dan menunjuk seseorang yg sedang berdiri dan memandangiku.
“Apakah dia Rasya?” pikirku dalam hati. Aku coba menghampirinya dan ternyata
dugaanku memang benar. Aku sangat senang melihat dia, “Aku kangen banget sama
kmu Tasya” ucapnya sambil memelukku. “Kamu bohong, seminggu apanya! Kmu udah
ninggalin aku hampir sebulan” balasku. “Masa sih? Kamu ga kangen yah?” ledek
Rasya sambil mencubit hidungku. “Kamu ngapain disini?” lanjutnya. “lagi nunggu
temen, tapi ga tau dia lama banget” jawabku, dan tiba-tiba hujan datang, aku
dan Rasya segera berteduh. Rasya memelukku karena mengerti klo aku kedinginan,
aku sangat nyaman berada didekapannya. “Tasya?” ucapnya lirih. Aku memandangnya
dan bibir kami saling bertemu, ini membuatku merasa semakin nyaman berada
disampingnya. Tanganku mencoba untuk merangkulnya, dan dia memelukku. “Aku
mencintaimu” ucapku dan mengecup pipinya.
Tak lama
setelah itu, tiba-tiba sebuah mobil datang menghampiri kami, “Tasya cepat
pulang!” ternyata kakakku datang untuk menjemputku. Akhirnya aku pulang
meninggalkan Rasya sendirian. Sampainya di rumah, aku “ngBM” Rasya, “Kamu udah
pulang kan?”. “Udah ko, ini lagi mampir buat beli makan malam” jawabnya
menenangkanku. Aku sangat senang karena pacarku telah pulang dari singapura
buat jemput ayahnya. “aku mencoba untuk menulis tentang apa yg terjadi di hari
terakhir libur semester ini di diary pribadiku”.
Keesokan
harinya aku kembali berangkat ke kampus bareng sahabatku Rina, dia emang
orangnya crewet banget, sok, tapi dia sahabat terbaikku sejak SMA. Aku sekarang
kuliah di salah satu PTN yang ada di Jakarta. Aku disini “sangat rajin dan
pekerja keras” setidaknya itu yg dikatakan oleh teman-temanku. Dan sainganku
adalah Rasya, dia tidak lebih rajin dariku tetapi dia selalu berada diatasku.
Aku kadang merasa bingung dengan semua ini, tapi dibalik semua itu aku sangat
menyayanginya sebagai teman hidupku. Hubungan kami dengannya semakin hari
semakin dekat, aku sesekali main ke rumahnya untuk silaturahmi dengan
keluarganya dan mereka sangat merestui hubungan ini.
Di kampus aku
tidak pernah bersama Rasya, karena Universitas ini tidak memperbolehkan
mahasiswa berpacaran di kampus, ini sebenarnya aneh sih Cuma aku mau gimana
lagi, ini kan peraturan. Tapi aku dan Rasya juga sepakat untuk bersaing menjadi
nomor satu di jurusan Teknik Informatika ini. J
Hari demi hari
berlalu, hubunganku dengannya menjadi sedikit jauh. Aku sebenarnya tidak tau
apa yg terjadi dengannya, tapi disetiap aku ajak dia makan malam atau nonton
dia selalu menolaknya. Aku berpikir mungkin ini karena minggu depan ada UAS.
Aku coba main ke rumahnya, tapi keliatannya sangat sepi dan tiba-tiba keluar
seorang cewek dari rumah itu dan juga Rasya. Aku tidak dapat mendengar apa yg
mereka bicarakan tapi itu sangat membuatku marah “Ga pernah ngabarin, tapi
malah selingkuh!!” ucapku dalam hati. Aku segera pulang, untuk menenangkan
pikiranku.
Keesokan
harinya, aku melihat Rasya. Dia bersama Galih, sahabatnya. Mereka selalu berdua
kemanapun perginya. Aku tidak jarang menanyakan tentang Rasya ke Galih. Dia
sebenarnya sama-sama suka dengan Rina anehnya mereka tidak pernah jadian (-_-).
Hari ini adalah hari pertama kami UAS dan aku sangat bersemangat karena
semalaman aku belajar sungguh-sungguh. “Semangat Tasya” sms yang dikirim Rasya.
Aku memandangnya dan memberikan senyuman indahku. Setalah selesai aku tidak
melihatnya. Mungkin dia sangat sibuk belakangan ini. Aku coba untuk mengerti
keadaanya tapi aku masih curiga siapa cewek semalam. Aku coba bertanya sama
Galih tapi dia tidak mengenalnya. Tapi rasa cemburu dan curiga tak pernah
membuatku menjadi bimbang. J
Tak terasa
seminggupun berlalu, Hari ini adalah pembagian nilai semester. Aku berlari ke
Ruang dosen “Hasil Ujian Akhir Semester Teknik Informatika.... 1. A. Natasya
Naziyanto” aku sangat senang karena namaku berada diurutan pertama. “Ciyee
akhirnya bisa ngalahin Rasya. Traktir dong” kata Rani. Akhirnya aku mengajak
dia ke kantin buat ngrayain ini semua. Disana aku juga bertemu dengan Rasya dan Galih. “Selamat sayang” ucap
Rasya sambil tersenyum. Tapi sepertinya aku melihat perbedaan pada sikapnya.
“Ntar sore kosong ngga?” tanya Rasya mengagetkanku. “iyah. Kenapa?” jawabku
kaget. “Aku jemput jam 7 yah” balasnya dan dia langsung pergi. Tapi aku seneng
banget walaupun udah 5 tahun, ini pertama kalinya dia ngajak aku pergi.
“Aku akan
menjadikan malam ini, malam terindah buat hubungan kita” ucapku. “mau kemana
luh? Dapet peringkat satu aja udah sok-sokan” ucap kakakku. “Ditungguin Rasya
tuh diluar” lanjutnya. Aku langsung keluar dan melihat dia sedang bersama
mamahku. “Mah, pergi dulu yah” ucapku. “Hati-hati ya Rasya” balas mamah kepada
Rasya. Akhirnya kita pergi makan malem ke salah satu tempat makan yg terkenal
disini. Dia sangat terlihat beda malam ini, aku merasa klo dia nutupin sesuatu
terhadapku. Tapi dia tidak pernah mengatakan hal itu.
Setelah
selesai makan aku meminum minuman favorite kita “Capucchino Float”.
“Tasya” panggil Rasya kepadaku. “Yah? Kenapa sayang?” jawabku. “Jangan cintai
aku 100%” ucapnya mengagetkanku. “Hah? Maksudnya gimana?” tanyaku bingung. “Aku
takut, aku bakal ninggalin kamu” jawabnya. “Kenapa kamu ngomong gtu? Kamu mau
ninggalin aku? Sekarang aja Rasya jika itu tujuan akhir kamu pada hubungan
kita!!!” Aku sangat kecewa mendengar perkataanya. Aku berlari keluar dan
memutuskan untuk pulang. Tapi setelah aku melihat ke belakang Rasya tidak
mengejarku. “Cowok apaan coba dia!! Ngbiarin ceweknya dijalan sendirian gini.”
Maki aku dalam hati. Dan tiba-tiba “Tasya, mau kemana luh?” Galih mengagetkanku
dengan motornya. “Pulang yuk, udah malem nih” ajaknya. Aku hanya ga ingin
knapa-knapa jadi aku pulang dengannya. Sampainya di rumah, mamah bingung kenapa
ga pulang sama Rasya. Aku terpaksa berbohong untuk menjaga nama baik Rasya di
keluarga ini karena aku sangat sayang kepadanya.
Setelah
kejadian itu, aku tidak pernah komunikasian dengan Rasya. Di kampus juga aku
tidak bertemu dengannya. Aku sebenarnya
sangat rindu padanya, tapi aku gengsi jika cewek harus ngabarin duluan. Setelah
3 hari tdk bertemu dengannya aku mencoba tanya Galih tapi dia juga tidak
mengetahuinya dan dia menyuruhku untuk menghubunginya. 4 hari kemudian aku
menyerah dengan pendirianku. Aku telvon Rasya tapi panggilannya dialihkan, aku
biarkan saja dan aku terhubung dengan seseorang. “Tasya?” suara mamahnya Rasya
terdengar. “Iya tante ini aku, Rasyanya
ada? Sekarang tante ada dimana?” tanyaku sontak setelah mendengar orang
menangis disana. “Rasya sedang di Rumah sakit. Kamu kesini yah”. Aku langsung
berlari ke rumah sakit tempat Rasya dirawat. Sampai disana aku melihat Rasya
sedang berbaring, Galih, Mamahnya dan adiknya, cewek yang waktu itu di
rumahnya. “Aku bahkan berpikir kalo kamu mau ninggalin aku, aku kira cwek yang
waktu itu bukan adik kamu, aku sangat menyesal dengan apa yang aku lakukan.
Jangan cinta kamu 100%? Aku ga bisa melakukan itu Rasya. Aku udah terlanjur
sayang banget sama kmu. Tapi knapa kmu gini!! Kamu masih ingat seminggu yg lalu
kita makan malam?” ucapku kepada Rasya. “Oh, Tasya sebenarnya waktu itu, Rasya
penyakitnya sedang kambuh. Waktu kamu pergi juga dia yg menyuruhku menjemputmu.
Dia sayang banget sama kamu” Potong Galih membuatku baru sadar kalo Rasya ga
pernah ingin mengecewakan aku. “Rasya, bangun dong...” aku menangis sambil
menggenggam tangannya.
Tiba-tiba air
mata Rasya keluar dan dia terbangun. Semuanya bersyukur atas hal ini, aku
sebenarnya belum mengerti penyakit apa yg dideritanya. “Tasya, aku sayang kamu”
ucapnya sambil mengusap air mataku. Aku hanya terdiam melihatnya, dan tiba-tiba
dia mengeluarkan darah saat batuk. Dan aku baru sadar klo itu adalah saat
terakhirnya berada di dunia ini. Aku sangat menyesali dengan semua ini dan kadang aku bertanya-tanya,
Kenapa aku tidak ada untuknya disaat dia mau pergi? Knapa aku pernah berpikir
buruk tentangnya walaupun dia sebenarnya ga pernah ingin membuatku kecewa? Aku
ga akan sesedih ini jika egoku bisa ku atasi. “Maafkan aku Rasya.. aku masih
egois ke kamu, aku akan menyesalinya” tangisku dalam hati. “
Selembar surat
pun diberikan oleh adiknya kepadaku.
